Sabtu, 23 Agustus 2014



KEPASTIAN


Seandainya sisa nafas dapat terhitung
Kan ku bersihkan debu dosa yang menempel pada diri ini
Seandainya waktu berkata tentang sisanya yang ada
Mungin aku akan berlari bagai di kejar duri
Seandainya air bisa berbicara kapan dia akan habis tertelan kehidupan manusia
Kan ku dahului bermuaranya disamudera yang akan menenggelamkan dosa
Seandainya sang mentari kehabisan energy untuk menyinari
Kan ku bersihkan diri mengharap cahaya abadi
Seandainya sang bulan memberi aba-aba akan berhenti menyinari di malam hari
Akan terlebih dahulu kusinari malam dengan mendekatkan diri pada Illahi
            Namun nyanyian itu tak kunjung tiba
Nafas terus berdalih berlomba memompa kehidupan manusia
Waktu tak berguming dengan kearoganannya tanpa tawar menawar untuk kehidupan manusia
Air tak protes akan kehausan makhluk hidup dunia
Mentaripun tetap bersinar di balik tirai awan yang megah dengan busa cahaya
Sang bulan tak hentinya menyambut malam dengan senyuman
Namun nanyian kepastian akan membuntuti kita mengingatkan kemusnahan

Malang, 21 Agustus 2014